KELAHIRAN MUHAMMAD SAW BESERTA RISALAH YANG DIBAWANYA



S
ejarah bangsa Arab sebelum datangnya Islam tidak dapat dike­tahui dengan tepat. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, mereka tidak memiliki kesatuan politik, dikarenakan sebagian besar pen­duduknya merupakan kelompok-kelompok yang suka berpindah-pindah tempat (nomaden). Hal seperti ini menjadikan kehidupan mereka penuh dengan kekerasan dan pertentangan yang memperebutkan daerah-daerah subur yang jumlahnya sangat terbatas untuk menggembalakan ternak mereka. Kedua, budaya tulis-menulis belum mereka kenal, sehingga kebanyakan masih buta aksara. Hal ini mengakibatkan tidak adanya penulisan sejarah pada masa itu, budaya dan tradisi mereka hanya dikisahkan secara lisan.
Negeri Arab terletak di sebelah barat-daya Asia dan rnerupakan sernenanjung yang dikelilingi oleh Laut Merah, samudera Hindia, dan teluk Persi. Negeri itu dapat juga disebut dengan kepulauan Arabia (Jazirah Arab). Jazirah ini sebagian besar terdiri dari padang pasir, walaupun di daerah itu terdapat juga air dan tumbuh-tumbuhan. Se­bagian besar wilayahnya terdiri dari daerah pegunungan dan bukit pasir dengan lembah-lembah yang rendah darn dataran tinggi. Dikarenakan keanekaragaman keadaan alam sepert i oleh para ahli geografi pada masa dulu telah dicatat, dare kr gnu an membagi Jazirab Arab menjadi tiga bagian:
1. Arab Petrix (atau menurut Ptolemy disebut Petraca), yaitu daerah yang terletak di sebelah barat daya gurun Syria, dengan Petra sebagai ibukotanya.
2. Arab Deserta, sebuab nama yang diberikan kepada gurun Syria itu sendiri kemudian dipergunakan untuk menyebut seluruh Jazirah Arab dikarenakan karena ketidak suburan daerah itu.
3.  Arab Felix, yaitu daerah Yaman. Disebut juga daerah hijau (Green Land) atau juga daerah ya0ng berbahagia (Happy Land), satu daerah yang dikenal dengan nama Saba' dan Ma'in yang mempunyai peradaban yang telah maju berkernbang.
Dalam literatur lain, seperti yang dikutip Badri Yalim dari Fajr Al-Islamnya, Ahmad Amin disebutkan bahwa dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum Islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada Jazirah Arab, padahal bangsa Arab juga mendi­ami daerah-daerah di sekitar Jazirah. Jazirah Arab memang meru­pakan kediaman mayoritas bangsa Arab kala itu. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar daerah Jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda, karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga bagian:
1.  Sahara Langit memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke barat, disebut juga Sahara Nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan angin seringkali menimbul­kan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sukar ditem­puh.
2. Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah timur sampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan al-Rub'al-khali (Bagian yang sepi).
3.  Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dart tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu rnenyebar di keluasan Sahara ini seluruhnya mencapai 29 buah.
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk Jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu Qahthaniyun (keturunan Qahthan) dan 'Adnaniyun (keturunan Ismail ibn Ibrahim). Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan `Adna­niyun, dan wilayah selatan didiami golongan Qahthaniyun. Akan tetapi, lama kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpin­dahan-perpindahandart utara ke selatan atau sebaliknya.
Bangsa Arab dulu merupakan penyembah berhala, memiliki banyak tempat suci dan upacara keagamaan. Mereka menyerahkan korban kepada Tuhan-tuhan mereka yang berujut patung dari batu kasar, dan mereka berarak berkeliling mengitari tempat peribadatan mereka.
Agama Kristen yang dipeluk oieh bangsa Syria dan Abyssenia yang bangsa Arab berhubungan dengan mereka, tidak menarik pengi­kut bangsa Arab dalam jumlah besar. Paham Kristen yang dangkal muncul di bagian dalam dan selatan Arab, dan dianut oleh suku Taghlib, Ghassan, dan Quda'a di utara dan juga di Yaman. Hal ini disebabkan dan menjadi kenyataan bahwa kaisar Roma tidak memberikan per­hatian terhadap penyebaran kepercayaan ini di Arab.
Agama Yahudi juga ada di Arab, tetapi orang-orang Yahudi penge­tahuan k.eagamaannya sangat sedikit. Mereka ini menetap di tempat yang berpencar-pencar. Khususnya di Yaman, di Wadilqura, di Khaibar, Fadak. dan Tayrna di sepanjang pantai timur laut Merah dan di Yathrib.
Sebagian besar penduduk Arab adalah penyembah berhala. Se­banyak 360 patung disembah, diantaranya adalah; Latta di Ta'if, Urra' di lembah Nakhla di sepanjang jalan Mekkah dan Irak, Manat di jalur Quadayad di pantai laut Merah antara Mekkah dan Madinah. Ini yang disembah oleh suku Aus dan Khazraj. Diantara patung berhala itu terdapat juga Suwa, yang disembah oleh orang Yanbu, Wadd (yaitu bulan) disembah oleh suku Kalb, Yaghuth disembah oleh suku Msdhij. Ya'uq disembah oleh orang-orang khiwan, satu daerah yang jarak tempuhnya dua malam perjalanan dari San'a, di Yaman dan Himyar disembah oleh suku Nasr.
Ka'bah atau rumah suci di Mekkah merupakan sebuah bangunan kuno berbentuk persegi yang dikelilingi oleh bangunan tanpa alap yang berisikan 360 patung berhala. Ini merupakan pusat penyembahan bangsa dan sebagai tempat berziarah. Suku Quraisy yang merupakan suku asal Muhammad memiliki kehormatan untuk menjadi penjaga Ka'bah. Dan melaksanakan kewenangan keagamaan paling tinggi di­bandingkan dengan suku-suku yang lain.
Kepercayaan lain yang ada ialah: penyembahan terhadap bintang dan langit yang dijalankan oleh penduduk Saba'. Mereka ini tersebar di Yaman, Harran, dan Mesopotamia bagian atas. Kepercayaan Zoroas­ter, yaitu pemeluk-pemeluknya sama menyembah api banyak tersebar di Persia, dan Arab bagian timur, dan khususnya di Bahrein, dan di teluk Arab. Kepercayaan ini mengajarkan adanya dua kekuatan, baik dan buruk. Tuhan kebaikan disimbolkan dengan sinar terang, tuhan kejahatan disimbolkan dengan kegelapan.
Di Arab juga ada orang-orang tertentu yang sadar dengan keadaan semacam ini. Mereka menganut dan menyebarkan ajaran monothe­isme dan yakin bahwa agama baru pasti datang di Arab bagian utara. Kehancuran dinasti di daerah selatan dan akibat pergolakan yang terjadi memberi pertanda munculnya agama barn dari utara, yang dipersiapkan untuk mengisi kekuasaan yang kosong di daerah selatan. Daerah suku Himyar sudah dikuasai oleh orang-orang Abyssenia dan perdagangan­nya beralih ketangan orang Roma. Sementara itu penduduk Arab di daerah utara khususnya mereka yang berada di Hijaz mempertahankan kekuatan mereka sehingga merekalah yang mewarisi kepemimpinan untuk seluruh jazirah Arab. Mereka itulah yang disebut Penitents atau Hanifities yang mengakui keesaan Tuhan. Kata Hanif disebutkan juga di dalam Al-Qur-an: Surah Ali Imran Ayat 67
Artinya: "Ibrahim hukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia seorang yang musyrik".

B.   RIWAYAT HIDUP MUHAMMAD SAW : PERJUANGAN DAN DAKWAHNYA.

1.    Sebelum kerasulan dan dakwah di Makkah
Ketika Nabi Muhammad SAW lahir (570 M), Mekah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya Ka'bah di tengah kota, Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka'bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berha­la, mengelilingi berhala utama, Hubal.
Kedalam masyarakat yang penuh dengan kegelapan penyemnan­an berhala ini Muhammad diutus dengan mini kenabian, yang menga­jarkan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah yang mengetahui segala tingkah laku manusia dan membalas atau menghukum sesuai dengan pcrbuatannya di akhirat nanti.
Muhammad dilahirkan tanggal 20 Ap 571 M, Ayahnya sudah meninggal sebelum ia lahir dan tidak seberapa lama setelah kelahiran­nya lbunya, Aminah meninggal. Abdul Muthalib (kakeknya) mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun, dua tahun kemu­dian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan, walaupun dia miskin.   
Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesua­tu di balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda is sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
Pada usia yang keduapuluhlima, Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamamya. Lamaran itu diterima dan perkawinan segera dilak­sanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebarkan Islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai itu dikaruniai enam orang anak; dua putera dan empat puteri: Qasitn, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Kedua puteranya meninggal waktu kecil. Nabi Mu­hammad tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal ketika Muhammad berusia 50 tahun
2.    Masa Kerasulan
Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemp1a­si ke gua Hira, beberapa kilometer di utara Mekah. Di sana Muhammad mula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari berta­fakkur. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang perta­ma: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu Maha Mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui" (QS 96: 1­5). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai Nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk rnenyeru manusia kepada suatu agama.
Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di ling­kungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah.
Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi semakin keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang mendo­rong orang Quraisy menentang seruan Islam itu. (1) Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan. (2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy. (3) Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. (4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab. (5) Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.
Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy. Mereka menempuh cara baru dengan melum­puhkan kekuatan Muhammad termasuk pemboikotan yang berlangsung sampai 3 tahun. Setelah pemboikotan berakhir, Rasulullah justru ditinggal oleh paman dan istrinya yang selama ini mendukung dan melindungi. Kondisi ini benar-benar membuat Rasul terpuruk dalam kesedihan dan duka mendalam.
Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra' dan memikrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian itu. Berita tentang Isra' dan Mikraj ini menggemparkan masyarakat Mekah. Bagi orang kafir, isu dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi. Sedangkan bagi orang yang beriman, ini merupakan ujian keimanan.
Setelah peristiwa Isra' dan Mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji ke Mekah. Mereka, yang terdiri dan suku 'Aus dan Khazraj, masuk Islam.
Pada tahun ke dua belas kenabian, para delegasi dari Yastrib menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembaali ke Yastrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Musa'ab bin Umair yang sengaja diutus Nabi atas permintaan mereka. lkrar ini disebut dengan perjanjian "Aqabah Pertama". Pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang datang dari Yattrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada Nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian “Agabah kedua”.
Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjan­jaan antara Nabi dan orang-orang Yatsrib itu, rnereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Hal ini membu'­aat Nabi segera Memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota Mekah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tetap tinggal di Mekah bersama Nabi. Keduanya membela dan menemani Nabi sampai ia pun berhijrah ke yastrib.
Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapa hari lamanya. Dia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah mesjid. Inilah mesjid pertama yang dibangun Nabi, sebagai pusat peribadatan.
Sementara itu, penduduk Yatsrib me­nunggu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-­tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatun Nabi (kota Nabi) atau sering pula disebut Madinatul Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam rnemancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari kota ini cukup disebut Madinah saja.
3.    Perkembangan Islam di Madinah
Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib (Madinah), Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Mekah, pada periode Madinah, Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala negara.
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan mesjid, selain untuk tempat salat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, di samping sebagai tempat bermu­syawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Mesjid pada masa Nabi bahkan, juga berfungsi sebagai pusat pemerintah­an.
Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi rnempersaudarakan antara golongan Muha­jirin, orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, dan An­shar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut mem­bantu kaum muhajirin tersebut. Dengan demikian diharapkan, setiap muslim merasa terikat dalam suatu persaudaraan dan
kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah ini berarti mencip­takan suatu bentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.
Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragarna Islam. Di Madinah, di samping orang­ orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad mengadakan ikatan perjaniian dengan mereka dalarn bidang sosial, dia juga meletakkan dasar persamaan antar sesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan ketatanegaraan sekarang, sering disebut dengan Konstitusi Madinah.
Perjanjian lain yang tercatat dalam perkembangan Islam adalah Perjanjian “Hudaibiyah”. Perjanjian ini terjadi pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, Nabi memimpin sekitar seribu kaum muslimin berangkat ke Mekah, bukan untuk berperang, melainkan untuk melakukan ibadah Umrah. Karena itu, mereka mengenakan pakaian ihram tanpa membawa senjata. Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah.
Genjatan senjata telah memberi kesempatan kepada Nabi untuk menoleh berbagai negeri lain sambil memikirkan bagaima­na cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang ditempuh Nabi adalah mengirim utusan dan surat kepada kepala-kepala negara dan pemerintahan. Di antara raja-raja yang dikirimi surat ialah raja Ghassan, Masir, Abesinia, Persia, dan Romawi. Namun, tak seorang pun yang masuk Islam. Ada yang menolak dengan baik dan sinipati, tetapi ada juga yang menolak dengan kasar, seperti yang diperlihatkan oleh raja Ghassan.
Selama dua tahun perjanjian Hudaibiyah berlangsung, dakwah Islam sudah menjangkau seluruh Jazirah Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh Jazirah Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan menggabungkan diri dalam Islam. Hal ini membuat orang-orang Mekah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata menjadi senjata bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu, secara sepihak orang-orang kafir Quraisy membatalkan perjanjian tersebut. Melihat kenyataan ini Rasulullah segera bertolak ke Mekah dengan sepuluh ribu orang tentara untuk melawan mereka. Nabi Muhammad tidak mengalami kesukaran apa-apa dan memasuki kota Mekah tanpa perlawanan. Beliau tampil sebagai pemenang. Patung-patung berhala di seluruh negeri dihancurkan. Setelah itu, Nabi berkhot­bah menjanjikan ampunan Tuhan terhadap kafir Quraisy. Sesudah khotbah disampaikan, mereka datang berbondong-bondong rnemeluk agama Islam. Sejak itu, Mekah berada bawah kekua­saan Nabi.
Pada tahun 9 dan 10 H (630-632 M) banyak suku dari berbagai pelosok Arab mengutus delegasinya kepada Nabi Muhammad menyatakan ketundukan mereka. Masuknya orang Mekah ke dalam agama Islam rupanya mempunyai pengaruh yang arnat besar pada penduduk padang pasir yang liar itu. Tahun ini disebut dengan tahun perutusan. Persatuan bangsa Arab telah terwujud; peperangan antar suku yang berlangsung sebelumnya telah beruebah menjadi persaudaraan seagama.
Tahun 10 H Muhammad menunaikan ibadah haji ke Mekkah dengan orang-orang Islam yang jumlahnya melebihi 100.000 orang. Di gunung Arafat beliau menyampaikan pidatonya yang dijadikan konstitusi Islam. Muhammad menekankan persamaan sesama Mus lim dan juga menyampaikan ayat Al-Qur-an:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada kamu nikmat-Ku dan telah Ku-rndhoi Islam itu menjadi agamamu”.
Isi khotbah ini merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam. Selanjutnya, prinsip-­prinsip itu bila disimpulkan adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, Keadilan ekonorni, kebajikan dan solidaritas.
Duabulan setelah itu, Nabi menderita sakit demam. Tenaganya dengan cepat berkurang. Pada hari senin, tanggal 12 Rabi'ul Awal 11 H 18 Juni 632 M., Nabi Muhammad SAW wafat di rumah istrinya Aisyah.

Dari perjalanan sejarah Nabi ini, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW, di samping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik, beliau berhasil rnenundukkan seluruh jazirah Arab kedalam kekuasannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tekad Api Uzumaki Naruto

TELAAH KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA

PENGERTIAN DAN LANDASAN KURIKULUM